Maulidah Minta Pemerintah Perkuat Dukungan untuk Pesantren

0
IMG-20251023-WA0028_copy_384x396
Bagikan:

 

PAPARAN LAMPUNG, (Bandar Lampung) – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 menjadi momentum penting untuk kembali meneguhkan arti pesantren bagi kehidupan berbangsa. Bukan sekadar lembaga pendidikan, pesantren telah lama menjadi sumber cahaya moral, tempat lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan berjiwa cinta tanah air.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Lampung, Maulidah, mengingatkan bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan pesantren. Perhatian tersebut, kata dia, harus diwujudkan melalui penguatan regulasi, alokasi anggaran yang memadai, serta pemberdayaan di bidang pendidikan, ekonomi, dan digitalisasi.

“Sejak dahulu pesantren menjadi benteng moral yang menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Di tengah derasnya arus modernisasi, pesantren tetap teguh menjaga tradisi dan kearifan yang diwariskan para ulama,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (22/10/2025).

Ia menambahkan, pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren yang disebut sebagai kado Hari Santri dari Presiden Prabowo merupakan bentuk perhatian nyata negara terhadap perkembangan dan kemandirian pesantren.

“Adanya Ditjen Pesantren diharapkan dapat menjadi wujud dukungan pemerintah agar perhatian terhadap pengembangan pesantren dapat dilakukan secara lebih spesifik dan menyeluruh,” tambahnya.

Sebagai seseorang yang tumbuh dan besar di lingkungan pesantren, Maulidah mengaku memiliki kedekatan emosional yang mendalam terhadap dunia santri.

“Bagi saya, pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan rumah bagi jiwa. Di sanalah makna ketulusan, kesabaran, dan perjuangan terbentuk. Karena itu, sudah sepatutnya pemerintah memastikan pesantren mendapatkan perhatian yang proporsional dalam setiap kebijakan pembangunan,” tutur anggota Fraksi PKB DPRD Lampung tersebut.

Ia menilai, pesantren saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu, mulai dari keterbatasan sarana, keterhubungan teknologi, hingga kebutuhan akan kemandirian ekonomi.

“Pesantren perlu dukungan nyata agar mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan ruh dan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya,” tegasnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *